Rabu, 16 Desember 2009

fr:wage (vok band nyi mas pandan wangi)

SEORANG AYUB
Nama : Ayub Hendarsyah
Lahir : Garut, 25 Agustus 1949
Alamat : Gg. Kebon Pisang No 18/34B RT 02 RW 10
Pekerjaan : Pedagang mie goreng ( Linmas RW 10 )
Panggilan : Kang Ayub
Kegiatan sehari hari : Memberihkan Sungai Cibunut

Terlahir dari kelurga biasa biasa, tahun 1969 Kang Ayub menikahi seorang perempuan bernama Eja Yuningsih dan warga sekitar memanggilnya dengan Ceu Eja. Selama pernikahannya yang telah berusia 40 tahun Kang Ayub dan Ceu Eja dikarunia 2 orang anak. Ada kebiasaan dari kegiatan sehari - hari Kang Ayub yaitu membersihkan sungai Cibunut disebagian sisinya. Kang Ayub tidak pernah ada yang menyuruh apalagi memberi imbalan, ketika ditanya mengenai hal itu kang Ayub menjawab dengan nada barat “ ah dari pada kesel bari amal ” akan tetapi dari jawaban yang sekenanya Kang Ayub telah membersihkan sungai Cibunut hampir sekitar 35 tahun, sungguh luar biasa, selama itukah Kang Ayub dalam kesendirian membersihkan sungai tanpa ada seorangpun yang peduli atau tergerak untuk membantu !?. Sayang sekali !, kalau kita lihat apa yang dihasilkan dari kegiatannya . Selama ini sungai yang ada disisi lain dipenuhi dengan tumpukan batu - batuan yang tak teratur serta sampah berserakan, akan tapi kita tidak menemukan hal itu disisi sungai yang kang Ayub bersihkan. Bebatuan yang ia tata sedemikan rupa mengantarkan air yang membawa sampah melaju dengan lembut. Sunguh pemandangan yang sangat aneh bagi sebagian warga yang tinggal disekitar sungai. “kang Ayub! akang sudah pantas mendapatkan penghargaan dari pihak terkait, kata seseorang “ Ah teu butuh kupenghargaan urang mah, lamun duit butuh” jawab kang Ayub sedikit bercanda namun banyak seriusnya belakangan ini kang Ayub memang sudah tidak berjualan mie goreng lagi mungkin karena tidak ada lagi biaya untuk berjualan, sekilas kita bisa menangkap bahwa Kang Ayub butuh modal untuk biaya dagangnya kalau kita mendengar jawaban diatas ketika di komentari tetang pengghargaan, namun saat pembicaraan dilanjutkan kang Ayub meneruskan “ Hayang meuli semen euy, jang naplok di solokan, barangkalna kabawa wae banjir tapi teu boga duit” sambil tersenyum kuning “kang ayub, kenapa mesti ditembok, kalau tidak salah itu tidak boleh “ tidak boleh - tidak boleh tujuh mulud ! “jawab kang ayub spontan “Tempo ku didinya anu teu ditembok, acak acakan kitu patut, loba runtah anu nyangkeud jeung urang nembok teh lain erek ngagedean lahan atawa imah didinya mah sok nulain lain” kang ayub mengeluarkan argumennya yang saya rasa cukup logis, sesaat Kang Ayub terdiam “hayu ah Erek neangan heula semenna “ sambil meninggalkan lawan bicaranya. Apakah Kang Ayub perlu ditolong untuk mendapatka semen ? Apakah Kang Ayub akan mendapatkan semen yang sementara ini warga tidak peduli dengan apa yang di lakukannya? Apakah akan ada lagi Ayub Ayub lain sebagai generasi penerus berikutnya saat Kang Ayub tidak bisa lagi melakukannya ? Sungguh terlalu! sungai yang panjangnya 5 km serta melintas dua kelurahan yang berpenduduk hampir 23.000 jiwa ini dan hanya seorang Ayub serta mungkin beberapa orang lain yang membersihkannya, “ lamun teu kieu bau euy ka jero imah, terus saha deui lamun teu urang ? ” sambil menarik kantung plastik berisi sampah yang tersangkut karena terlalu besar “ Tapi ieu mah teu sabaraha, biasana mah aya nu miceun kasur, korsi butut komo basa eta mah aya nu miceun lomari” sambil terus menarik kantung plastik “ urang teu perlu dibantuan sabeunerna mah, nu penting mah nu lain tong micen runtah ka solokan, geus cukup eta ge “ inilah konsep yang dipaparkan oleh seorang Ayub konsep yang sangat buhun (tua sekali namun jarang dilaksanakan) sederhana namun dan sangat baik sakali “ Tapi saha nu erek ngabejaanna bosen gogorowokannana “ suatu pertanyaan yang Kang Ayub harapkan bisa ada jawabannya.

“ Program Zona Seratus Meter Baik, terinspirasi dari kegiatan sehari - hari seorang Ayub
dan Prozoraterik ini didedikasikan untuk kang Ayub dan seluruh masyarakat pinggiran sungai Cibunut Kelurahan Kebon Pisang ”

( Genius Poor )